Mesti Tenar Dulu, Baru Menerbitkan Buku?

Ada satu bagian menarik dari keputusan Tere Liye mencabut bukunya dari penerbit mayor. Ia tak berencana berhenti menulis. Hanya saja mencoba memasarkan bukunya sendiri, tanpa jalur penerbit lagi. Dilihat dari angka penjualan buku-bukunya yang masuk daftar terlaris dan menarik banyak penggemar, rencana Tere memang tampak layak dicoba.

Tapi, ada satu aspek lagi yang membuat upaya itu tak terlihat muskil: Perkembangan teknologi yang pesat memang berdampak ke segala aspek kehidupan manusia, termasuk bisnis penerbitan.

Buku tak lagi terbit dalam bentuk cetakan: tinta di atas kertas berbau khas, dibentuk jadi kuras-kuras, dilem punggung jadi jilidan, lalu dibungkus plastik. Teknologi membuatnya lebih praktis jadi tampilan digital di layar tablet atau ponsel pintar, yang tinggal digeser dengan satu jari.

Berkat teknologi, penulis juga punya wadah yang lebih luas untuk mempromosikan diri sekaligus kontennya. Ia menjadi saluran massa berkumpul, tanpa perlu usaha memanggil lewat pengeras suara, misalnya. Buktinya keluhan Tere tentang pajak penulis langsung ditanggapi kilat oleh Menteri Keuangan Sri Mulyani. Teknologi itu bernama sosial media.

Bukan cuma penulis, hidup para calon penulis juga dipermudah sosial media. Seseorang tak perlu lagi bertahun-tahun menunggu agar karyanya diangkat sebuah media atau penerbit, seperti derita penulis zaman-zaman sebelumnya. Bahkan, jika sudah punya pasar sendiri alias punya banyak pengikut, para editor akan datang sendiri menawarkan kesempatan bikin buku.

Salah satu kisah teranyar datang dari Gita Savitri Devi alias Gitasav, seorang influencer di Instagram dan YouTube. (Pengikut di akun Instagramnya mendekati 400 ribu dan di YouTube menarik 231.427 subscriber per 18/09.)

Gadis berhijab ini terkenal karena vlognya sebagai mahasiswa rantau di Jerman. Ia baru saja menerbitkan buku pertamanya, berjudul Rentang Kisah. Kesempatannya menjadi penulis datang dari Instagram. Salah satunya ternyata Ry Azzura, seorang editor di Gagas Media. Ry sudah 5 tahun bekerja di salah satu penerbit terbesar Indonesia tersebut.

Awalnya Ry sering melihat foto Gita wara-wiri di halaman penjelajahan Instagramnya. Ia tahu kalau Gita terkenal karena vlognya, tapi masih belum tahu kalau Gita juga suka menulis dan aktif mengunggah konten di blog pribadi. Suatu ketika, Ry iseng membuka blog itu, dan kaget melihat unggahan Gita yang rutin diperbarui.

“Ya udah, aku coba kontak setelah itu. Eh, gayung bersambut,” ungkap Ry kepada saya.

Rupanya Gita juga ada hasrat ingin menerbitkan buku. Bahkan ia sudah punya konsep untuk buku pertamanya. Gagasan itu kemudian berkembang jadi Rentang Kisah yang sudah dirilis awal bulan ini.

Sebagai editor di Gagas Media, Ry memang ada tanggung jawab untuk mencari-cari sumber naskah yang bisa diterbitkan, dan tentu saja punya potensi laris-manis.

Selain menunggu naskah masuk, kemudian menyaringnya, para editor disarankan untuk melihat potensi buku laris kepada para influencer macam Gita. Ry bilang, ia tak langsung memutuskan menggaet Gita saat kali pertama melihatnya di sosial media.

“Enggak asal pilih-pilih influencer. Tetap yang utama, dia harus bisa nulis,” ungkap Ry. “Mau gimana pun harus dia nanti yang nulis bukunya sendiri. Di Gagas, enggak ada namanya penulis bikin buku tapi ditulisin orang lain, atau editor. Penulis ya harus nulis,” tambahnya.

Isi blog Gita akhirnya meyakinkan Ry untuk menghubunginya sebulan sebelum Ramadan kemarin. Kesiapan Gita dengan konsepnya, dan determinasi menulis yang baik, membuat buku itu rampung cukup cepat.

“Editing sendiri kelar tiga bulanlah,” kata Ry.

Hasilnya? Sama sekali tak buruk. Setidaknya pada angka penjualan.

Sekejap saja, buku debut Gita sebagai penulis langsung ludes di sejumlah toko online yang dijajakinya. Di bukabuku, bahkan ia langsung menempati posisi pertama buku paling laris pada beberapa hari pertama setelah rilis. Tak bisa dimungkiri, pengikut Gita yang banyak berpengaruh pada statistik itu.

Kisah serupa bukan barang baru. Ada banyak sekali penulis yang diangkut dari sosial media karena dianggap penerbit punya ceruk pasar cerah. Misalnya Raditya Dika dan Arief Muhammad. Buku pertama keduanya diterbitkan oleh Grup Gagas Media: Kambing Jantan: Sebuah Catatan Harian Pelajar Bodoh(2005) dan Poconggg juga Pocong (2011).

Kedua buku itu laris dan dilirik produser film, menaikkan nama Raditya Dika dan Arief Muhammad sebagai pemain industri kreatif Indonesia.

Naskah Segar dari Penulis Baru Masih Relevan

Bukan cuma Gagas Media yang melakukannya. Hampir semua penerbit besar memang punya cara serupa dalam mencari naskah.

Misalnya, Raksasa dari Jogja yang diterbitkan PlotPoint (PT Bentang Pustaka) dari penulis galau, Dwitasari. Atau Bad Romance yang diangkat Mizan dari Wattpad, wadah penulisan online semacam blog tapi lebih komunal, dibuat oleh satu perusahaan media digital dari Kanada.

Lalu bagaimana nasib naskah-naskah mentah yang masuk ke penerbit tapi bukan dari orang tenar di sosial media?

Ry Azzura bilang, penerbit tempatnya bekerja tetap melakukan penyaringan naskah. Namun, porsinya memang 50:50. Sebab, jumlah naskah yang masuk dan layak untuk diterbitkan kadang kurang. Sementara mereka setiap bulan punya target sekian judul yang harus diterbitkan. Ry enggan menyebut jumlahnya.

Alasan lain adalah proses penerbitan sebuah buku kadang tak bisa dipastikan, terutama beberapa kasus yang tersandung dalam proses penyuntingan.

Di Mizan, perbandingan lebih kurang lagi. “Kalau dilihat, paling perbandingannya 7 banding 3,” kata Sari Meutia, CEO Mizan. Tujuh untuk naskah dari penulis non-influencer, dan 3 dari mereka yang memang sudah punya massa.

Sementara CEO Penerbit Baca, Anton Kurnia, tak menampik kalau menerbitkan penulis yang sudah tenar di sosial media lebih menggiurkan di mata penerbit. Perusahaannya sendiri lebih sering menerbitkan terjemahan buku-buku luar negeri ketimbang menarik influencer di sosial media. Meski sama sekali tak menutup kemungkinan atas naskah-naskah segar yang muncul dari penulis baru.

Marjin Kiri berbeda. Ronny Agustinus, pemimpin redaksi, tegas berkata tak menutup kemungkinan untuk bekerja sama dengan influencer asalkan naskahnya bagus. Tapi di perusahaannya, kematangan naskah adalah sumber utama sebagai poin utama kelayakan terbit.

“Kita enggak main-main yang seperti itu,” kata Ronny.

Menurut Sari, meski naskah-naskah dari orang-orang terkenal di sosial media punya kecenderungan lebih laku, tapi kebutuhan regenerasi penulis dan bacaan bagus tak bisa dikesampingkan.

“Mizan sendiri bahkan punya program KKPK—Kecil-kecil Punya Karya. Isinya seri buku yang ditulis anak-anak umur 7 sampai 12 tahun,” ungkap Sari. “Kita harus kasih kesempatan buat anak-anak ini melanjutkan karier kakak-kakak (penulis) yang sudah tua,” tambahnya.

Dewi ‘Dee’ Lestari, salah satu penulis senior di Indonesia, juga berpendapat seragam. Bahkan dari pandangannya, kemajuan teknologi telah membuat regenerasi penulis muda Indonesia jadi lebih cepat.

“Para penulis muda sekarang jauh lebih mudah untuk bisa berkarya,” katanya kepada saya.

Dee juga punya pesan yang baik untuk para penulis muda. Katanya, perubahan zaman tidak bisa ditolak, hanya bisa dirangkul. Tabiat membaca secara umum juga berubah, tapi kebutuhan orang akan konten terus berjalan.

“Buku fisik bisa jadi bergeser jadi buku digital, tapi kebutuhan orang akan fiksi, akan cerita, terus berjalan,” ujarnya.

“Jadi, penulis jangan dipusingkan soal medium dulu, fokus pada konten. Hanya karena orang senang baca cerita bergambar, tidak berarti saya juga harus bikin cerita bergambar karena tren. Hanya karena orang senang baca cerita singkat, tidak berarti saya berhenti bikin cerita panjang. Tetaplah mengolah konten yang kita sukai,” tutup Dee.

Baca juga artikel terkait PENULIS BUKU atau tulisan menarik lainnya Aulia Adam 

(tirto.id – aad/fhr)
sumber : https://tirto.id/mesti-tenar-dulu-baru-menerbitkan-buku-cwNh

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *