Yang harus dilakukan untuk meningkatkan tingkat literasi Indonesia

File 20170921 10657 1gnpkpq
Di Indonesia, hanya 13,1% populasi yang membaca surat kabar. Dan di Jakarta hanya 5,4% populasi bisa menangkap informasi dari teks yang panjang.
www.shutterstock.com

Chairil Abdini, Universitas Indonesia

Dibandingkan negara-negara lain di dunia, tingkat literasi anak-anak dan orang dewasa di Indonesia sangat rendah.

Kemampuan membaca, berhitung dan pengetahuan sains anak-anak Indonesia berada di bawah Singapura, Vietnam, Malaysia dan Thailand berdasarkan hasil tes PISA (The Programme for International Student Assessment) yang dirilis Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) pada 2016.

Sementara 70% orang dewasa di Jakarta hanya memiliki kemampuan memahami informasi dari tulisan pendek, tapi kesulitan untuk memahami informasi dari tulisan yang lebih panjang dan kompleks. Dan 86% orang dewasa di Jakarta hanya dapat menyelesaikan persoalan aritmetika yang membutuhkan satu langkah, tapi kesulitan menyelesaikan perhitungan yang membutuhkan beberapa langkah.

Data ini disimpulkan dari hasil penilaian PIAAC (The Programme for the International Assessment of Adult Competencies), tes kompetensi sukarela untuk orang dewasa yang berusia 16 tahun ke atas.

Rendahnya literasi merupakan masalah mendasar yang memiliki dampak sangat luas bagi kemajuan bangsa. Literasi rendah berkontribusi terhadap rendahnya produktivitas bangsa. Ini berujung pada rendahnya pertumbuhan dan akhirnya berdampak terhadap rendahnya tingkat kesejahteraan yang ditandai oleh rendahnya pendapatan per kapita.

Literasi rendah juga berkontribusi secara signifikan terhadap kemiskinan, pengangguran dan kesenjangan.

Perlu ada upaya-upaya khusus dari pemerintah untuk meningkatkan tingkat literasi Indonesia.

Solusi mengatasi masalah literasi

Untuk mengatasi masalah rendahnya tingkat literasi di Indonesia, ada beberapa upaya yang dapat dan perlu dilakukan, antara lain:

  • Merekrut dan meningkatkan kualitas guru sejalan dengan Kesepakatan Muscat (Muscat Agreement), sebuah perjanjian yang disepakati pada 2014 oleh delegasi pertemuan Global Education for All yang diselenggarakan UNESCO di Muscat, Oman. Salah satu targetnya adalah: semua negara memastikan bahwa pada 2030, seluruh pelajar dididik oleh guru-guru yang memenuhi kualifikasi, terlatih secara profesional, memiliki motivasi, dan mendapatkan dukungan.
  • Mengatasi masalah gizi sedini mungkin. Peningkatan anggaran pendidikan tanpa perbaikan gizi anak ternyata tidak berdampak terhadap peningkatan kecerdasan dan prestasi belajar–ditandai oleh peningkatan nilai PISA yang tidak signifikan. Karena itu alokasi anggaran pendidikan yang cukup besar (untuk tahun 2018 sebesar Rp441 triliun) sebagian perlu dialihkan untuk program perbaikan gizi melalui penyediaan makanan tambahan di sekolah mulai dari Pendidikan Anak Usia Dini sampai sekolah menengah atas.
  • Membangun dan meningkatkan infrastruktur pendidikan terutama penyediaan listrik, perpustakaan, lab komputer dan akses terhadap internet serta peningkatan infrastruktur ICT yang saat ini tertinggal di ASEAN.
  • Memasukkan kembali buku bacaan wajib ke dalam kurikulum. Untuk menjamin ketersediaan buku bacaan bermutu, maka fungsi penerbit milik negara Balai Pustaka perlu dikembalikan ke posisi sebelumnya sebagai penerbit dan penyedia buku bacaan bermutu bagi sekolah-sekolah.

Kemampuan literasi di Indonesia

Peningkatan anggaran pendidikan yang dilakukan pemerintah Indonesia telah berhasil meningkatkan angka partisipasi sekolah anak-anak berumur 13-15 tahun dari 81,01% pada tahun 2003 menjadi 94,7% pada tahun 2016.

Namun, melihat hasil penilaian PISA, dapat disimpulkan bahwa peningkatan anggaran pendidikan di Indonesia belum berhasil meningkatkan kemampuan literasi anak-anak Indonesia.

Pada 2014-2015, Indonesia secara sukarela juga mengikuti PIAAC yang diselenggarakan oleh OECD. Penilaian PIAAC ini meliputi literasi, kemampuan angka dan kemampuan memecahkan masalah.

Berdasarkan laporan berjudul “Skills Matter” yang dirilis OECD pada tahun 2016, berdasarkan tes PIAAC, tingkat literasi orang dewasa Indonesia berada pada posisi terendah dari 40 negara yang mengikuti program ini.

Tes PIAAC, menemukan bahwa hanya 1% orang dewasa di Jakarta yang memiliki tingkat literasi yang memadai (Level 4 dan 5). Orang dewasa dengan tingkat literasi level 4 dan 5 dari tes PIAAC, dapat mengintegrasikan, menafsirkan, dan mensintesis informasi dari teks yang panjang yang mengandung informasi yang bertentangan atau kondisional. Dan hanya 5.4% orang dewasa di Jakarta memiliki tingkat literasi pada level 3, yaitu dapat menemukan informasi dari teks yang panjang.

Selain itu, pada tahun 2016, Central Connecticut State University merilis hasil “The World Most Literate Nation Study”. Studi ini selain menggunakan hasil penilaian PISA juga menambahkan ketersediaan dan ukuran perpustakaan serta akses terhadap informasi. Dari 61 negara yang diteliti, Indonesia berada pada posisi ke-60 di atas Botswana. Untuk kawasan ASEAN posisi Indonesia berada di bawah Singapura, Malaysia, dan Thailand.


Baca juga: Model literasi yang bermanfaat untuk Indonesia: bukan sekadar melek huruf


Mengapa tingkat literasi Indonesia rendah?

Kualitas pendidikan yang rendah menyebabkan rendahnya kualitas lulusan pada tingkat pendidikan primer, sekunder, maupun pendidikan tinggi. Ini merupakan faktor utama rendahnya tingkat literasi.

Kualitas lulusan antara lain ditentukan oleh kualitas atau kompetensi guru. Hasil uji kompetensi guru pada tahun 2015 hanya mencapai nilai rata-rata 53,02% dan kompetensi calon guru hanya mencapai 44%. Kualitas guru di Indonesia masih jauh dari memadai.

Gizi juga merupakan faktor kendala dalam mengatasi masalah rendahnya literasi. Prevalensi balita yang mengalami kekurangan gizi dan tubuh pendek (stunting) pada tahun 2010 masing-masing mencapai 17,9% dan 35,6%.

Pada tahun 2013 kekurangan gizi mencapai 17,8% dan prevalensi tubuh pendek bahkan naik menjadi 36,8%. Dalam masalah gizi ini Indonesia termasuk 36 negara di dunia yang berkontribusi terhadap 90% masalah gizi dunia.

Selanjutnya faktor infrastruktur pendidikan–seperti ketersediaan listrik, lab komputer dan akses terhadap internet, serta perpustakaan–ikut menyumbang dalam penanganan masalah rendahnya literasi.

Infrastruktur pendidikan Indonesia tertinggal dibandingkan beberapa negara ASEAN. Ketersediaan listrik dan laboratorium komputer berada di bawah Singapura, Malaysia, Thailand, dan Filipina. Akses terhadap internet di bawah Singapura, Malaysia, dan Thailand. Dan Indonesia berada di bawah Singapura, Malaysia, Thailand, Filipina, dan Vietnam dalam hal teknologi komunikasi informasi.

Terakhir faktor rendahnya minat membaca masyarakat Indonesia. Menurut Survei Sosial dan Ekonomi Nasional (Susenas) yang dilakukan Badan Pusat Statistik (BPS) sampai 2015 pembaca surat kabar hanya 13,1%, sementara penonton televisi mencapai 91,5%.

Rendahnya minat membaca ini antara lain terjadi sejak kemerdekaan akibat dihapuskannya secara bertahap buku bacaan wajib di sekolah.

Dulu di era sebelum kemerdekaan pelajar AMS (sekolah setara SMA untuk pribumi di zaman pendudukan Belanda) diwajibkan membaca 25 judul buku dan pelajar HBS (sekolah setara SMA untuk anak Eropa dan bangsawan pribumi) sebanyak 15 judul buku.


Baca juga: Semangat membaca di pelosok menantang anggapan minat baca rendah


Dampak literasi rendah

Berdasarkan laporan UNESCO yang berjudul “The Social and Economic Impact of Illiteracy” yang dirilis pada tahun 2010, tingkat literasi rendah mengakibatkan kehilangan atau penurunan produktivitas, tingginya beban biaya kesehatan, kehilangan proses pendidikan baik pada tingkat individu maupun pada tingkat sosial dan terbatasnya hak advokasi akibat rendahnya partisipasi sosial dan politik.

Literasi rendah juga, menurut UNESCO, menimbulkan dampak antara. Misalnya, tingginya kecelakaan kerja dan tingginya prevalensi sakit akibat pekerjaan.

Dampak antara literasi rendah juga muncul dalam persoalan kesehatan masyarakat, karena masyarakat dengan literasi rendah juga umumnya memiliki kesadaran rendah akan kebersihan makanan dan gizi buruk dan memiliki perilaku seksual berisiko tinggi. Akibatnya, prevalensi penyakit seksual, kehamilan, aborsi, kelahiran, kematian tinggi.

Literasi rendah juga berdampak pada tingginya angka putus sekolah dan pengangguran yang berdampak pada rendahnya kepercayaan diri. Orang dengan tingkat literasi rendah sulit menjadi mandiri atau berdaya, dan tergantung secara ekonomi pada pada keluarga, kerabat, dan negara.

Kriminalitas, penyalahgunaan obat dan alkohol, serta kemiskinan dan kesenjangan, juga merupakan dampak dari rendahnya tingkat literasi.

Berdasarkan laporan Bank Dunia tingginya kesenjangan di Indonesia saat ini sebagian besar disebabkan kesenjangan keterampilan (skill gap) yang tentunya terjadi karena rendahnya tingkat literasi.

Tanpa melakukan upaya perbaikan terhadap tingkat literasi akan sangat sulit bagi Indonesia untuk dapat menurunkan angka kemiskinan dan menurunkan tingkat kesenjangan.

Oleh karena itu kunci dalam meningkatkan produktivitas bangsa dan menurunkan angka kemiskinan serta menurunkan tingkat kesenjangan terletak pada keberhasilan kita dalam mengatasi masalah literasi.

Chairil Abdini, Lecturer in Public Policy and Decision Analysis, Universitas Indonesia

Sumber asli artikel ini dari The Conversation. Baca artikel sumber.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *