Model literasi yang bermanfaat untuk Indonesia: bukan sekadar melek huruf

File 20170911 28472 f6vca3
Anak di Bali bermain wayang. Literasi menyangkut proses penanaman metode berpikir yang dapat bermanfaat bagi pembangunan manusia.
Shutterstock

Lucia Ratih Kusumadewi, Universitas Indonesia

Artikel kelima dalam seri tulisan memperingati Hari Aksara Internasional.


Model literasi yang mengabaikan konteks sosial dan budaya Indonesia dapat membuat upaya pembelajaran di masyarakat menjadi tidak tepat sasaran. Selain itu, bila literasi didefinisikan dengan minimalis, maka akan kurang memberikan manfaat yang luas.

Literasi umumnya dipahami sebagai kemampuan kognitif untuk membaca dan menulis. Pengertian konsep literasi kemudian berkembang, misalnya dengan mengikutsertakan kemampuan berbicara secara lisan (oral) dan menghitung.

Lebih jauh para ilmuwan telah memasukkan unsur kemampuan untuk mengakses informasi dan pengetahuan dalam definisi literasi. Namun, mendefinisikan literasi hanya berbasis pada kemampuan (skill) masih mengandung kekurangan.

Literasi kemudian juga dikatakan sebagai sesuatu yang diterapkan (applied), sebuah praksis dan merupakan hal yang disituasikan (situated). Proses belajar misalnya, dapat dikatakan sebagai bagian dari literasi.

Pertanyaannya, apakah literasi yang selama ini kita mengerti dan pahami sebenarnya sudah kontekstual dan cukup bermanfaat bagi pembangunan sosial masyarakat luas?

Keragaman pengertian literasi

Berdasarkan studi yang dilakukan UNESCO, terdapat keragaman pengertian literasi. UNESCO bahkan mendorong pendefinisian literasi yang berbasis pada pluralitas masyarakat itu.

Lembaga-lembaga non-pemerintah internasional dan nasional misalnya mendefinisikan literasi secara beragam yang disesuaikan dengan berbagai kegunaan.

Sementara itu, keragaman pengertian literasi juga terdapat di tingkat regional maupun di tingkat nasional. Dalam laporan UNESCO, Bulgaria, Kolombia, dan Meksiko misalnya, mendefinisikan literasi sebagai kemampuan untuk membaca dan menulis teks kalimat sederhana. Sementara Ukraina, Malaysia, dan Hungaria mengaitkan literasi dengan tingkat pendidikan.

Ada juga negara-negara yang membangun pengertian literasi secara lebih spesifik. Cina misalnya, mendefinisikan literasi sebagai kemampuan seseorang untuk mengerti minimum 2.000 aksara Cina di wilayah perkotaan dan 1.500 karakter di wilayah perdesaan. Singapura mendefinisikan literasi sebagai kemampuan untuk membaca dan memahami bacaan dalam bahasa yang spesifik.

Pengertian konvensional konsep literasi di Indonesia

Pengertian konvensional yang sering dikaitkan dengan literasi di Indonesia adalah “melek huruf” dan “buta huruf” yang mengacu pada konsep yang dirumuskan Biro Pusat Statistik (BPS) sebagai “Angka Melek Huruf” (AMH) dan “Angka Buta Huruf” (ABH).

AMH didefinisikan sebagai proporsi penduduk usia 15 tahun ke atas yang mempunyai kemampuan membaca dan menulis huruf Latin dan huruf lainnya, tanpa harus mengerti apa yang dibaca atau ditulisnya. Sementara ABH adalah kebalikan dari AMH.

Menurut data UNDP tahun 2016, angka melek huruf Indonesia termasuk yang baik bila dibandingkan dengan banyak negara berkembang lainnya. Sejumlah 93,9% penduduk berusia 15 tahun ke atas dinyatakan dapat membaca dan menulis walau tanpa harus memahami.

Tahun 2015, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan masa itu, Anies Baswedan, sempat mencanangkan “Gerakan Literasi Sekolah” (GLS) yang dikembangkan berbasis pada Permendikbud No. 21/2015 tentang Gerakan Pembudayaan Karakter di Sekolah.

Dalam Buku Saku Gerakan Literasi Sekolah yang dikeluarkan Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah disebutkan bahwa yang dimaksud dengan literasi adalah kemampuan dalam mengakses, memahami, dan menggunakan informasi secara cerdas. Selain tidak ada penjelasan lebih lanjut, definisi ini juga sumir dan mudah disalahartikan.

Model literasi yang bermanfaat

Tantangan yang dihadapi bangsa Indonesia saat ini jelas jauh lebih kompleks dari sekadar melek huruf atau seperti yang dirumuskan dalam Buku Saku Gerakan Literasi Sekolah. Definisi literasi yang sekadar kemampuan membaca dan menulis tanpa melihatnya sebagai bagian dari praksis dapat mengurangi kemanfaatan dan mengecilkan makna literasi.

Untuk itu perlu dibangun model literasi yang lebih bermanfaat yaitu yang memperhatikan yang praksis sebagai yang utama, karena berawal dari yang praksis terciptalah kemampuan. Untuk semakin “menjadi”, maka kemampuan itu justru secara berkelanjutan diasah dan diteguhkan dalam yang praksis.

Model literasi yang lebih bermanfaat adalah yang dibangun dengan makna yang lebih mendalam dan holistik, menyentuh sisi-sisi kesadaran individual dan kolektif.

Kegiatan belajar Sokola Rimba di Desa Mumugu Batas Batu di Kabupaten Asmat, Papua. Literasi juga merupakan proses belajar sepanjang masa untuk menjadi manusia yang bijak, kritis, kreatif.
Dok. Sokola Rimba/Agung Nugraha, CC BY-NC

Dalam hal ini, literasi sebaiknya dibangun atas dasar apa yang dikatakan Paulo Freire sebagai “conscientisation” yaitu proses belajar yang bertujuan melahirkan “kesadaran kritis” individual atau kelompok yang bersifat otonom, memanusiakan, dan memerdekakan. Artinya, literasi menyangkut pula sebuah proses penanaman metode berpikir yang dapat bermanfaat bagi pembangunan manusia.

Dalam pengertian ini literasi juga dipahami sebagai proses belajar sepanjang masa (life-long learning) dalam rangka menjadi Subjek, yaitu karakter manusia yang bijak, kritis, kreatif, dan peduli serta dapat bersimpati, berempati, dan berkompati (compathy) pada diri, sesama manusia, serta lingkungan hidupnya.

Model literasi yang kontekstual

Paling tidak terdapat tiga konteks sosiologis dan antropologis masyarakat Indonesia yang dapat dijadikan patokan dalam pembangunan model literasi yang lebih kontekstual.

Pertama, walau angka buta huruf kecil, masyarakat kita belum sepenuhnya masuk ke dalam budaya tulisan. Budaya lisan masih dominan dihidupi oleh warga masyarakat. Kedua, masyarakat Indonesia memiliki karakter budaya komunal yang kuat. Dan ketiga, hampir di seluruh belahan dunia saat ini, tak terkecuali Indonesia telah menjadi bagian dari sebuah jaringan raksasa masyarakat digital dunia.

Ketiga karakter ini bukan berarti kesalahan ataupun kelemahan, sebaliknya justru harus menjadi perhatian utama supaya dapat ditemukan pendekatan yang kontekstual dalam mencapai cita-cita pembangunan manusia Indonesia melalui literasi.

Bila model literasi tidak memperhitungkan kekuatan budaya lisan dan hanya fokus pada pendekatan tulisan, tampaknya cita-cita literasi akan lambat dicapai. Sebaliknya yang perlu dikembangkan adalah metode pembelajaran yang cukup seimbang memanfaatkan berbagai pendekatan lisan dan tulisan.

Di sisi lain, pendekatan komunal sebenarnya dapat menjadi kekuatan dalam meningkatkan literasi. Untuk itu, dapat dipikirkan lebih lanjut berbagai pendekatan pembelajaran yang dilakukan secara komunal, sehingga literasi dapat menjadi bagian dari budaya. Contoh, pembelajaran komunal yang menanamkan kepedulian pada lingkungan di kalangan Sedulur Sikep di Pegunungan Kendeng, Jawa Tengah.

Berbicara tentang literasi hari ini, juga semakin kompleks bila dikaitkan dengan perkembangan teknologi informasi yang semakin cepat. Miliaran informasi dari berbagai belahan dunia dapat mudah diakses setiap hari. Padahal tidak semua informasi itu bermanfaat, banyak di antaranya yang tidak konstruktif atau bahkan berbahaya bagi pembangunan keadaban. Dalam konteks itu perlu dikembangkan literasi digital yang mengedepankan keutamaan-keutamaan hidup bersama.

Lucia Ratih Kusumadewi, Lecturer of Sociology, Universitas Indonesia

Sumber asli artikel ini dari The Conversation. Baca artikel sumber.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *