Kualitas Buku versus Kecerdasan Masyarakat

Nemu tulisan lama tentang literasi di sebuah situs bukoe.com . Dibuang sayang, saya koleksi aja yah.

Setelah sekian tahun mengajar di sekolah menengah, saya menemukan dua alasan besar yang membuat para siswa di negeri kita tidak terlalu tertarik membaca banyak buku yang berefek pada rendahnya mutu lulusan pendidikan kita akhir-akhir ini. Pertama, proses belajar mengajar di sekolah kita selama ini lupa membiasakan peserta didik untuk memahami hakikat belajar. Akibat proses belajar mengajar yang demikian maka peserta didik, dari sekolah dasar sampai mahasiswa di perguruan tinggi, hampir tidak mau membaca buku kalau tidak “dipaksakan” oleh gurunya. Padahal, hampir semua peserta didik telah memiliki buku pegangan yang wajib dimiliki dan mengharuskan mereka membacanya. Tidak sedikit peserta didik kita dari sekolah dasar sampai perguruan tinggi yang hanya mampu menghafal catatan hasil gabungan kalimat yang pernah didiktekan para guru di kelas semata. Hasil yang dapat kita saksikan dari kondisi demikian adalah tidak sedikit mahasiswa tingkat akhir di perguruan tinggi yang kesulitan menulis skripsi. Salah satu penyebabnya tentu saja karena kurangnya membaca buku. Jika buku seputar disiplin ilmunya saja tidak pernah dibaca maka sudah dengan sendirinya mereka “buta” akan ilmu di luar bidangnya.
Kedua, proses belajar mengajar yang sedang berlangsung di kelas-kelas di semua sekolah. dari Sabang sampai Merauke, mulai dari sekolah dasar sampai perguruan tinggi, hingga hari ini, masih kental dengan nuansa monolog dan menihilkan proses dialogis. Guru mengajar peserta didik mencercarkan. Guru mendikte dan peserta didik menulis apa yang didiktekan sang guru. Tidak boleh ada satu pun peserta didik yang ribut dan menentang apa yang diajarkan sang guru. Dengan kata lain, proses belajar mengajar di sekolah-sekolah kita hingga hari ini, masih berjalan searah dan kental dengan suasana monolog-otoriter. Guru menjadi orang yang paling tahu, paling pintar, paling benar, wajib diikuti dan dituruti.

Akibatnya, peserta didik merasa tidak perlu membaca banyak buku. Ilmu yang wajib dipelajari hanyalah yang pernah dikeluarkan dari bibir bapak dan ibu guru. Jika bisa menghafal semua yang diajarkan sang guru, seorang peserta didik wajib memperoleh skor tertinggi, memperoleh rangking, dipandang paling pintar dari segenerasinya, pantas dihormati masyarakat, dan berjenis-jenis hadiah layak disodorkan kepadanya. Anehnya, jika disuruh merangkai kata lewat sepotong karangan singkat atau berbicara lisan di depan temannya, ia belum tentu bisa. Dari sini mudah ditebak bahwa kata-kata yang ada padanya hanyalah potongan kalimat yang pernah didiktekan sang guru semata. Ibarat “katak dalam tempurung”, ia merasa pintar dari segenerasinya di sekolahnya, tapi kesuiitan berkompetisi secara global ketika ia keluar dari dunia pendidikan.

Buku dan Kecerdasan Kolektif Masyarakat
Bulan Maret-Juni menjelang tahun ajaran baru merupakan hari paling sibuk bagi sejumlah penerbit dalam mempromosikan buku pelajaran ke sekolah-sekolah. Para sales dari berbagai penerbit melakukan negosiasi dengan para guru bidang studi secara langsung, menawarkan kerja sama antara sekolah dan penerbit, hingga menawarkan janji-janji tak pasti dengan guru yang diberi tanggung jawab untuk penjualan buku di sekolah. Semua cara itu mereka tempuh agar para guru “jatuh cinta” dengan buku terbitan mereka. Proses kerja yang sarat nuansa bisnis itu tidak jarang menampilkan isi buku “comot sana-comot sini”, editing yang kurang bagus, bahasa yang berat, dan desain kulit muka yang tidak menarik. Kondisi buku yang apa adanya itu berulang dari tahun ke tahun kemudian mengurangi semangat belajar para siswa —yang pada akhirnya mutu pendidikan kita semakin merosot dari waktu ke waktu.
Sebenamya, kalau kita memperbincangkan buku maka beberapa catatan berikut kiranya boleh diusulkan untuk meningkatkan mutu pendidikan di Tanah Air. Pertama, buku harus dipahami sebagai sarana efektif untuk meningkatkan kecerdasan masyarakat. Jika kita sepakat dengan hal ini, sebuah buku yang diproduksi seharusnya mempertimbangkan faktor usia pembaca, unsur seni dalam penyajian, dan bahasa yang lugas. Dengan kata lain, sebuah buku yang diproduksi harus bisa mencerdaskan pembaca.
Kedua, peranan buku untuk meningkatkan kecerdasan akan efektif jika buku ditempatkan dalam suatu suasana umum yang mendukung perkembangan inteligensi masyarakat. Maksudnya, buku akan bermanfaat bagi seseorang jika bisa diperoleh dengan harga yang terjangkau kemampuan keuangan mereka. Harga buku yang terus “melangit” saat ini akan menjauhkan buku dari pembaca umum, yang selanjutnya mengakibatkan tidak ada peningkatan inteligensi masyarakat secara kolektif.
Ketiga, jika buku dipandang dapat meningkatkan kecerdasan bangsa sekaligus meningkatkan mutu pendidikan, bisa diharapkan bahwa perkembangan buku di negeri ini akan meningkat juga. Buku nantinya bisa menjadi tempat kecerdasan individual sekaligus kecerdasan kolektif yang akan diuji kembali melalui praktik pembacaan yang dilakukan untuk pengembangan kecerdasan. Jika kecerdasan adalah produksi sosial yang harus dimiliki semua orang, kita perlu berpikir bagaimana caranya kita bisa cerdas secara bersama lewat membaca buku —yang dari situ dapat meningkatkan mutu pendidikan di negeri ini, Dengan kata lain, buku adalah input sekaligus output kecerdasan kolektif masyarakat kita.
Keempat, kalau buku dipandang menjadi alat menuju kecerdasan kolektif, perlu kiranya mutu sebuah buku (terutama buku peiajaran) dikontrol materi dan cara penyajiannya sebelum dipasarkan ke publik. Hal ini diperlukan mengingat buku pelajaran yang dipasarkan di sekolah-sekolah selama ini terlalu kental orientasi bisnisnya daripada orientasi mutu dan teknis penyajiannya. Selain itu, muatan materi yang disajikan pada buku-buku pelajaran di sekolah menengah selama ini dikeluhkan para siswa terlalu ilmiah, bahasanya terlalu berat, penyajiannya tidak menarik, serta penampilannya terlalu formal. Kondisi ini membuat lemahnya motivasi membaca buku pada peserta didik, yang kemudian penguasaan siswa akan suatu materi pelajaran pun menjadi sangat rendah.
Sixtus Tanje, pengajar di sebuah SLTP swasta di Jakarta
Majalah Mata Baca Vol. 2 / No. 2 / Oktober 2003  

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *