Orang Awam Menulis Buku; Pengalaman Menjadi Self-Publisher

Sore yang cerah, 14 Mei 2003. Setelah seharian suntuk menyelesaikan dua artikel tentang Hari Buku Nasional untuk dua koran daerah. Alangkah indahnya jika mencoba keluar. Menikmati temaram matahari sore ditemani buku dan teh tubruk tawar tambah sedikit madu. Beruntung ada warung yang selalu siap dengan request itu. Biasanya “ritual ini” saya akhiri dengan berkunjung ke toko buku. Pertama, mengetahui perkembangan (tema) buku. Kedua, menjaring ide untuk tulisan artikel. Ketiga—jujur saja—”cuci mata”.

Tengah sibuk menyelidik buku-buku baru, tiba-tiba saya dikagetkan dengan tepukan, tepatnya sentuhan halus di bahu, “Kapan nulis buku?” suara yang saya dapatkan tepat ketika menoleh ke arah bahu. Oh, ternyata dia sahabat lama saya ketika kuliah. Pernah menjadi editor dan setting-layoutersbeberapa buku tulisan dosen. Kini menjadi wartawan sebuah tabloid di Jakarta. Demikian terang teman saya dalam komunikasi lisan yang akrab, hangat dan membahagiakan. Rupanya, sahabat saya ini belum tahu kalau saya sudah menulis dan menerbitkan buku, protes kecil dan upaya merevisi pertanyaan “Kapan nulis buku?” Maklum, terbilang lama kami tidak bertemu. Setelah bicara ngalorngidul, ber-haha hehe, saya pun tergoda menjadikan pertanyaan “Kapan nulis buku (lagi)?” sebagai keberlanjutan isi baku cakap kami.
Di MATABACA Vol. 1/No. 1/Agustus 2002, Frans M. Parera menulis “Kebanyakan kita hanya terbiasa dengan pengetahuan operasiona!, teknis, artistik, dan finansiai hasil pertanyaan ‘bagaimana’. Perbukuan menantang kita memasuki horizon pengetahuan ‘mengapa’… kemampuan refleksi menjadi bekal untuk mengembangkan pertanyaan ‘mengapa’ dan perbukuan menjadi sarana untuk kemampuan refleksi itu”.
Dalam pemaknaan berbeda, pertanyaan “mengapa” menjadi hal mendasar bagi saya untuk menjadi self-publisher (penerbit swakelola): menulis sendiri, menyunting sendiri, mengemas sendiri (kalau bisa), dan memasarkan sendiri buah pikiran mereka dalam bentuk buku —pengertian minimal pemberian Bambang Trim. Mengembangkan pertanyaan “mengapa” dalam lingkup self-publisher berarti mempertanyakan dorongan hasrat/motivasi hingga seorang memilih untuk menulis sendiri buku, menyunting, menerbitkan dan memasarkan. Inherent, pilihan tema buku yang ditulis/diterbitkan.
Ada kegerahan dalam diri saya, tiap kali berkunjung ke toko buku. Ada banyak tanda tanya dalam benak saya. Tanda tanya itu kian bertambah seiring bertambahnya buku-buku dalam deretan rak. Mengapa masih saja saya betah menjadi pembaca, membuka dan membaca buku-buku orang lain. Orang lain baik dengan ukuran diri sendiri maupun orang lain dalam pengertian region(penulis/penerbit) yang berasal dari luar Semarang. Tidak satu pun karya saya di antara ratusan judul buku itu. Menghitung jumlah penerbit dari Semarang, jumlah jari tangan pun tidak akan habis. Menyadari kenyataan tersebut sering membuat saya tidak terlalu bersemangat jika hendak ke toko buku. Hingga pada satu titik, saya memutuskan diri sejenak “berpuasa” jalan-jalan ke toko buku, Dan tidak akan “berbuka” selama belum berhasil menerbitkan karya sendiri.
Sepertinya lebih merupakan sarkas-eufimis menyebut Semarang sebagai kota budaya atau pendidikan ketimbang sebuah sebutan prestatif. Kalau mobilitas masyarakat Semarang ke daerah lain terbilang tinggi, itu masih dalam pola interaksi bersifat fisik. Lebih didorong oleh orientasi afiliatif. Tidak ada yang salah dengan pola demikian, tetapi rasa-rasanya jadi kurang berimbang lantaran tidak ada produk budaya yang menyertainya.
Masyarakat Semarang diposisikan (atau memang memposisikan diri) sebagai target groups/objek penyebaran wacana dalam pesta pemikiran yang berkembang. Dialog atau tewar-menawar nilai tidak terjadi. Kalau begitu, tidak hanya impor konsumsi fisikal, pun makanan otak/pengetahuan. Sungguh, sebuah pemandangan indah jika ada dialog, ada semacam reserve, tawar-menawar nilai antar-daerah: Semarang dengan Makassar, Yogya dengan Banjarmasin, Bandung dengan Malang, Jakarta dengan Manado, dan seterusnya melalui produk kebudayaan, buku.
Alasan lain menjerumuskan diri menjadi self-publisher adalah upaya mendapatkan benefit tentang seluk-beluk perbukuan serta keuntungan bisnis yang proporsional. Dua alasan terakhir yang saya sebut tadi, terus terang saya masih sangat awam.

Bukannya tanpa hambatan saya menjadi self-publisher. Gagal dan berhasil maknanya sudah hampir berhimpit. Ada cerita menarik yang saya alami saat awal menjadi self-publisher. Mengingat ini sering saya tersenyum-senyum sendiri. Semakin saya tersadar betapa penting mengembangkan pertanyaan “mengapa”.

Syahdan saya menawarkan buku Resep Kesehatan: Seri Terapi Madu, yang terdiri atas dua buku: Madu Plus untuk Kesehatan dan Vitalitas dan Ramuan Madu dengan Kayu Manis untuk Penyembuhan Kanker Tulang, Penyakit Jantung, Gangguan Lambung, kepada satu toko buku mainstream. Kebetulan ukuran fisik buku tersebut kecil karena saya maksudkan sebagai buku saku. Justru hal itulah yang menjadi alasan pertama keberatan (baca: penolakan). Gampang tercecer atau hilang, katanya. Alasan kedua —terlepas dari karakter kepribadian pegawai toko buku mainstream tersebut— harga buku terlalu mahal (dengan membandingkan dengan buku-buku lain).
“Buku ini dimaksudkan untuk kesehatan, tapi dengan huruf sekecil ini justru akan membuat orang yang baca sakit mata.” Hingga entah karena kasihan atau tujuan memperolok-olok, pegawai itu mengatakan, “Barangkali kalau dijual di bus-bus bakalan laku” menutup kesuksesan penolakannya.
Agak stres juga saya. Dalam kondisi seperti ini, biasanya saya akan segera mencari “obat” dalam bentuk mekanisme pertahanan ego (self defence mechanism), dan obat itu saya dapat ketika membaca buku Berani Gagal: Hikmah Kegagalan karya “guru kegagalan” Billi PS. Lim. (Lagi-lagi harus berinteraksi dengan buku).
“Kegagalan pertama adalah pada saat Anda memutuskan diri untuk berhenti mencoba,” demikian tulis Billi PS. Lim mengutip ucapan Stephen King, “Anda tidak gagal hanya saja belum menemukan cara yang paling sesuai/pas. Banyak yang dapat kita peroleh justu pada saat menemukan kegagalan tidak demikian jika kita mengalami keberhasilan,” Lanjut Lim.
Membaca wiseword itu membuat suasana hati saya kembali membaik. Segera saya menulis daftar pertanyaan/keberatan ketika tawaran ditolak. Saya susun dengan jawaban yang sudah saya canggihkan (sophisticated) dalam bentuk paper guide, sambil membacanya secara berulang-ulang. Berharap jika ada pertanyaan sama, dapat saya jawab dengan baik.
Misalnya, huruf terlalu kecil? Tidak juga. Hampir semua koran menggunakan huruf Times New Roman 10 pt atau buku-buku yang dijadikan perbandingan menggunakan Arial 10 pt. Sementara buku (resep) ini menggunakan Garamond 10,5 pt yang terlihat tajam, sedangkan font 11 atau 12 menjadi tidak proporsional dengan ukuran buku. Agar semakin readable, dalam penyajiannya menggunakan pendekatan jurnalisme presisi atau dibuat sistematis mungkin, rapi dan ada pembedaan yang jelas antara judul resep, resep, petunjuk, dosis dan anjuran.
Ukuran buku yang terlalu kecil? Tujuan buku adalah guide book/pocket book, dapat dijadikan teman perjalanan, bisa ditaruh di kotak obat, organizer, dompet.
Harga yang terlalu mahal? Dengan harga Rp. 2.500 untuk orang yang biasa beli buku/intellectual property rights mungkin murah,  tetapi kerja intelektualnya itu yang mahal karena untuk menulis buku harus researchdokumentasi yang panjang: kliping, buku, perpustakaan, website, ekperimentasi dan itu bukan sesuatu yang murah baik secara ekonomis maupun sosial (waktu, perhatian, dan lain-lain).

Tidak sia-siasaya menyiapkan catatan kecil ini. Ketika menawarkan ke toko buku lain (masih tergolong mainstream) ternyata pertanyaannnya sama. Dengan jawaban yang sudah mengalami pencangggihan, akhirnya toko buku mau membantu memasarkan. Tentu dengan diskon yang tidak bisa dibilang kecil (dan ini merupakan salah satu critical problem dalam dunia perbukuan).

Hasilnya? Sebanyak 500 eksemplar buku tentang madu habis terjual dalam waktu kurang lebih empat bulan. Dengan biaya promosi yang boleh dikatakan nol rupiah. Bahkan saya beberapa kali ditelepon untuk menyetok kembali. Kini, buku resep madu tengah memasuki proses akhir cetakan kedua.
Buku ketiga lain lagi ceritanya. Buku ketiga berjudul Pesta, Cinta dan Buku, tentang jejak pengalaman saya ketika menulis artikel di media massa. Berulang kali saya dihadapkan pada pertanyaan “mengapa”. Mengapa harus menulis buku, menulis artikel, bukannya buku sejenis sudah banyak, “Kamu kan hanya menulis artikel di media lokal dengan kuantitas yang tidak banyak, you’re nothing, belum pantas untuk menulis buku,” bagian dari diri saya bertanya. Dari sekian panjang masa penyelesalan tulisan, waktu terbesar justu dihabiskan untuk menjawab pertanyaan mengapa tersebut.
Lama saya bersepi-sepi menyatukan kepercayaan diri yang tercerai berai. Lebih dari lima buku semuanya tentang menulis (artikel) saya baca berulang-ulang. Memetakan isi buku, menyusun dalam sebuah matrik, membanding-bandingkan hingga satu titik terang muncul, ada satu hal yang sering dilupakan oleh penulis buku (artikel), yaitu penjelasan tentang willingness to write sangat terbatas. Menempatkan pada skill (keterampilan) praktis sebagai porsi terbesar dari halaman bukunya. Ada satu hal terpenting —yang ini rupanya terlupakan— yaitu proses lahimya sebuah tulisan, bagaimana membuat orang termotivasi untuk menulis, serta kebiasaan hidup (habit) seperti apa yang dapat mendukung bagi tumbuhnya tradisi menulis yang kuat.
Temuan lain? Mereka yang menulis adalah para penulis mapan, orang-orang “lama” yang mempunyai kondisi dan tantangan berbeda dengan sekarang. Padahal, setiap buku kiat menulis (artikel) menempatkan mahasiswa dan golongan muda untuk menjadi (salah satu) target group. Saya pun berandai-andai. Seandainya yang menulis adalah anak muda, paling tidak bisa mengurangi kesenjangan umur (biologis) dan situasi (sosiologis) dengan pembaca.
Demi memperkuat alasan mengapa saya harus menulis buku Pesta, Cinta dan Buku, sekaligus pledoi atas kesimpulan belum pantas menulis buku karena selama ini menulis artikel hanya pada media di daerah, saya dapatkan dari membaca secara kontekstual (tentang ini dapat Anda baca pada tulisan saya “Membaca (Buku) Saja Belum Cukup”, MATABACA Vol.1/No.12/Agustus 2003 hlm. 17-20). Ke depan, seiring dengan pelaksanaan otonomi daerah secara penuh, isu-isu yang mengemuka justru berada di daerah (lokal-regional).
Rasa-rasanya kok kurang adil jika semua penulis menjadikan media nasional (yang berada di Jakarta) sebagai pilihan untuk mempublikasikan tulisan. Terus, siapa yang akan melakukan transformasi proses “pencerdasan” serta sosialisasi nilai terhadap masyarakat pembaca di tingkat daerah? Padahal, jika orang daerah sendiri yang menulis tentang isu di daerah atau isu nasional, pengaruhnya terhadap daerah bukankah lebih nyekrup? Berdasarkan hal itu, lahirlah buku Pesta, Cinta dan Buku pada akhir Juli 2003. Soal distribusi boleh dibilang “sempuma” (Pesta, Cinta dan Buku sebelumnya mengalami masa penantian tiga bulan lebih di salah satu penerbit besar di Jakarta).
Jean Baptish Say (1767-1832), ekonom klasik yang terkenal dengan hukum Saymengatakan: production creates its own demand. Produksi saja suatu barang sebanyak-banyaknya, nanti pasti ada yang membeli. Demikian kira-kira terjemahan bebasnya. Hukum Say berlaku jika suatu korporasi punya dana besar sehingga dapat melakukan promosi gencar, menciptakan permintaan. Namun, buat yang punya dana cekak pilihannya safety (meminimalisasi risiko) dengan demand create its own supply. Jenis, kuantitas, kualitas, dan harga barang yang diproduksi ditentukan oleh permintaan pasar (konsumen).
Dalam konteks self-publisher, harus dilakukan apa yang dinamakan opportunity analysis. Yang tidak hanya berdasarkan kalkulasi ekonomi/bisnis, tapi juga mengikutsertakan nilai (benefit), baik melalui observasi, wawancara, maupun penyebaran kuesioner, termasuk menjawab pertanyaan mengapa.
Tulisan ini tidak ditujukan sebagai cermin kesuksesan, hanya sekadar berbagi cerita. Mungkin ketiga buku yang saya tulis dan terbitkan (buku keempat segera menyusul) tidak istimewa. Apalah artinya buku yang ditulis oleh orang biasa atau awam, lingkup distribusinya pun hanya memenuhi pasar di Semarang dan sekitarnya. Namun, mengutip epilog Joko Pinurbo dalam satu tahun MATABACA:
“Belum apa-apa.
Baru langkah awal.
Kami kira, ini awal yang baik.”
Agus M. Irkham, penggiat komunitas Pasar Buku Indonesia
Majalah Mata Baca Vol. 2/No. 2/Oktober 2003

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *