Bab 1. Dia Yang Datang Tak Diundang

Wahai anakku! Jika ada sesuatu yang tak bisa kau pastikan bila dia datang,maka persiapkan dirimu untuk menghadapinya sebelum dia mendatangimu sedang engkau dalam keadaan lengah” (Nasihat Luqman kepada anaknya)

***

“Namaku Izrail”.[1]

 

Tiba-tiba saja ia berdiri dihadapanku. Memperkenalkan diri. Entah dari mana. Mungkin itu gayanya yang khas ketika mengunjungi seseorang. Ia sebutkan namanya, tanpa keraguan. Padahal aku nggak minta diperkenalkan. Boro-boro perkenalan, dia begitu saja mengada. Makanya siapa dia pun aku nggak ngeh. Izrail katanya. Siapa ya? Rasanya nama itu pernah kukenal dengan baik. Tapi, aku lagi-lagi tidak mampu menggali memori dari otakku yang tiba-tiba menjadi beku.

Terus terang, aku melongo ketika orang atau lebih tepatnya mahluk itu ada dihadapanku. Kamarku yang temaram agak benderang. Meskipun kehadirannya mendadak begitu, aku tidak terlalu kaget. Hanya saja, memang muncul rasa heran dan takut.

Tubuhku yang sedang leyeh-leyeh berbaring sambil baca-baca setengah terangkat. Aku menatapnya. Persisnya, bengong melihatnya berdiri di hadapanku. Rasa takut sejenak menyergapku. Aku seakan tidak merasa asing dengan sosok ini. Kayanya pernah kenal. Tapi dimana gitu. Dalam beberapa saat aku seperti pikun. Lupa. Tepatnya nggak tau. Apakah pernah bertemu dengannya atau tidak. Sepertinya aku mengalami dejavu. Khayal pikiranku mulai melayang bagai bulu diterbangkan angin.

Setelah ia menyebutkan namanya begitu saja, lama ia memandangku dengan diam. Mengamati gerak-gerikku.  Ia nampaknya termasuk mahluk yang tak mau tau. Tepatnya super cuek. Apakah aku mau atau tidak, nampaknya ia memang tak peduli. Bilamana ia mau, ia akan memperkenalkan diri. Bila tidak, ya sudah lewat begitu saja. Tak peduli orang yang disapanya mau atau tidak. Apakah yang di datanginya jantungan atau tidak. Baginya  itu seperti tidak menjadi soal benar. Apalagi kemunculannya yang tiba-tiba begitu. Seperti menyergap dari ketiadaan. Muncul begitu saja. Pokoknya, itulah gambaranku tentang sosok super cuek yang hadir di kamarku itu.

Bagi yang penakut, mungkin kemunculannya bisa membuat semaput. Dia seperti hantu. Untungnya, aku termasuk bukan manusia yang kagetan. Jadi, kemunculannya yang tiba-tiba itu tidak terlalu membuatku semaput. Tapi, yang jelas memang otakku serasa tiba-tiba membeku, seolah aku berada dalam lemari pendingin daging, atau lemari es. Seperti sekarang ini, aku memandang dengan bodoh ke sosok yang luar biasa ganteng ini.

Ganteng? Hmmm. Kupikir-pikir, memang aku belum pernah melihat wajah seperti dia ini. Wajahnya lebih mirip manekin yang dipajang ditoko-toko ketimbang manusia. Halus, berkulit bersih, bahkan seperti menimbulkan pendar sinar. Meskipun, kebersihan kulitnya agak sedikit gimana gitu. Tidak lazimlah.

Warnanya bersih, mendekati merah dadu seperti pipi bayi itu. Nah, sekarang dia senyum-senyum dikulum. Seperti seorang teman lama yang sedang menggoda. Wah, pikirku, ni orang kalau ikut kontes Indonesian Idol atau AFI barangkali langsung menang, yang lainnya langsung bertumbangan.

“Sudah tau siapa aku?”, lanjutnya memecahkan kebingunganku.

“Eh..emmmm yyyaa…siapa ya,” sahutku, agak menyentak karena sedikit kaget. Gemetaran dan tergagap-gagap aku menjadi grogi. Tapi, tetap saja lagi-lagi aku masih belum ngeh siapa dia. Padahal dia sudah menyebutkan namanya. Nama itu memang terdengar tidak asing. Cuma, aku lagi-lagi lupa dimana pernah mendengar nama itu.

Dia tersenyum simpul. Swear, senyumnya termasuk kategori senyum manis bagi makhluk berjenis kelamin laki-laki (terus terang saja, jenis jender ini perlu saya buat dengan font italyc karena saya sendiri bingung ini orang laki-laki atau perempuan).

Kemudian dengan perlahan ia berkata, “Aku diminta menjemputmu…”.

“Siapa?”, tanyaku masih setengah bingung.

“Dia…”, katanya pendek.

“Dia siapa ya?”, tanyaku lagi, otakku masih beku, tak bisa menduga dan tak tahu dengan yang ia maksud.

“Kkkamu sendiri siapa?”,  tanyaku dengan sedikit gagap. Tapi sudah agak lebih berani dan mantap ngeyel.

Keberanianku muncul begitu saja. Nampaknya, ia tidak kaget dengan reaksiku yang nampaknya masih belum begitu jelas. Aku sendiri masih mencoba mengingat –ingat. Tapi, rasanya memang sel-sel kelabu otakku masih kaku tak bisa berpikir.  Entah kenapa, kemampuan berpikirku jadi mandeg. Daya ingatku seperti berputar-putar tak menentu. Tak bisa mengatur alur logis yang benar. Melompat-lompat dan terputus-putus begitu saja seperti komputer yang perangkat lunaknya error karena virus. Kira-kira pernah kenal dimana dengan sosok aneh ini. Tanpa ba bi bu lagi nongol dan langsung memperkenalkan diri.

Kucoba mengingat-ingat sekiranya aku pernah bertemu dengannya.  Di suatu tempat, di suatu waktu. Disela-sela kepikunanku, keringatku mulai meleleh seolah-olah air perasan pikiranku. Anehnya, ingatanku mulai bekerja dengan alur kenangan yang nampak kacau.

Apakah teman sekolahku dulu pikirku. Ah, kelihatannya bukan. Tetap tak bisa kuingat, siapakah pemilik sosok ganjil dihadapanku ini. Seingatku tak ada yang mirip sama sekali. Lagi pula kami masih sering kumpul-kumpul satu sama lain, meskipun sudah hampir puluhan tahun angkatan kami habis alias pada lulus dari bangku kuliah. Ah, nampaknya bukan. Pelan-pelan kuhimpun daya ingatku, sedikit demi sedikit aku merasakan darah diotakku mengalir, otakku mulai bekerja dengan sedikit lebih normal.

Tak ada dari temanku yang penampilannya mirip dia si Izrail ini. Meskipun dari lain jurusan, aku masih ingat satu persatu beberapa temanku semasa kuliah dulu. Frame demi frame aku mencoba memutar kembali wajah-wajah temanku. Si B yang pernah dipenjara dulu karena aksi bakar ban di kampus. Atau si N yang jadi budayawan. Walaupun aku cuma satu dua kali ketemu dengan dia toh aku masih mengingat wajahnya. Bahkan beberapa teman satu kampus yang cuma kenal muka pun aku masih rada-rada ingat. Lha yang ada didepanku ini benar-benar asing banget. Walaupun samar-samar wajah itu seperti bukan wajah asing bagiku.

Seraut wajah wanita melintas sekilas dengan senyum manisnya. Ah tapi bukan dia, bukan dia, dia sudah lama pergi. Aku tepiskan bayangan yang melintas dari masa lalu itu. Entah kapan ketemunya akupun tidak tau.

Tapi memang ada satu wajah yang sempat melintas dikepalaku, tapi tidak mungkin dia, soalnya dia memang cewek. Tapi, yah yang berdiri di hadapanku ini memang susah kujelaskan apakah cewek atau cowok. Ahhh…,  mungkin kawan se SMA dulu pikirku. Mencoba tidak menyerah, untuk mengingat dia yang tiba-tiba berdiri didepanku. Ingatanku pun melayang ke SMA dulu untuk mencari-cari dan mencocokkan siapa gerakan teman SMA yang mirip-mirip dia ini. Lagi-lagi aku tidak menemukan sesorang pun yang mirip dia. Kemudian kujelajahi kenangan SMP dan sekolah dasar.

Samimawon. Blank

Benar-benar blank nih pikirku, persis komputer yang tidak ada BIOS-nya. Siapa dia ini ya. Aku membatin, sambil menatap sosoknya. Mereka-reka, mencoba mengingat dan menggali dari sel-sel kelabu diotakku. Uhh…, rasanya…nggak ada ingatan sama sekali tentang sosok yang satu ini.

“Ngomong-ngomong sebenarnya kamu ini siapa…”, kegugupan dan kebengonganku sudah hampir lenyap. Ganti keingintahuanku muncul tentang dia sendiri.

Sejenak ia menatapku lekat-lekat, kemudian “Ehm..aku sebenarnya pernah kamu kenal duuuluuuuu sekali”.  Ia mencoba memberi penekanan pada kata dulu. Jadinya terdengar sedikit aneh. Terus terang, senyum dikulumnya itu membuat beberapa bulu-bulu halus ditekukku mulai meremang.

“Dddulu kapan yyya?” lanjutku setengah gemetar menuntaskan keingintahuanku.

“Ya dulu, sewaktu kamu baru mau disinari oleh Dia”.  Ha….apa maksudnya “disinari”. Disinari apaan…

Sepotong ayat tiba-tiba melintas, membuka suatu kenangan asosiatif masa yang telah lama sekali berlalu, Alif Laam Mim Raa,(QS 13:1).

Lagi pula, kok ucapannya sangat takzim sewaktu ia ucapkan “Dia”. Bahkan setengah takut-takut.

“Aku diminta segera menjemputmu.”, katanya sedikit lebih takzim kepadaku.

“Haaa”.

Aku melongo antara bingung, heran, takut, dan takjub menjadi satu .

[1] Kenapa Izrail bukan nama Elmaut misalnya atau Si Panjul. Kalau digunakan nama maut menjadi sangat umum sekali, padahal dalam suatu novel diperlukan suatu karakter, penokohan, yang akhirnya digunakan nama Izrail yang sudah lama dikenal di masyarakat. Terlepas bahwa nama itu Israiliyat atau sekedar dongeng, maka harus ditegaskan bahwa penamaan tersebut hanyalah suatu karakterisasi seperti kita menamai gunung dengan nama khusus. Atau kita namai anak kita dengan nama yang indah dan punya arti. Katakanlah: “Malaikat maut yang diserahi untuk mencabut nyawa kalian, kemudian hanya kepada Tuhanmulah kamu akan dikembalikan.” (QS. as-Sajdah: 11).

Navigasi iNovelBab 2. Tanda-tanda >>

2 Balasan untuk “Bab 1. Dia Yang Datang Tak Diundang”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *