Daftar Isi

Namaku Izrail!

Perjalanan Imajinal Bersama Kematian

Oleh: Atmonadi

Copyright © 2016 by Atmonadi

Cetakan Kedua 2016

Penerbit

Atmoon SelfPublishing

Website : sp.atmonadi.com

atmonadi@rocketmail.com

Desain Sampul

Atmonadi

Diterbitkan melalui:

Nida Dwi Karya Publishing

www.nulisbuku.com

 

 

 

 

 

 

 

 

Untuk almarhumah Mimi ku

Masjatim binti Ismail.

 

 

 

 

 

 

Prakata

Bismillahirrahmaannirraahiim

 

 

Segala puji dan syukur sepatutnya hanya ditujukan untuk Allah SWT, Sang Maha Pencipta yang menebarkan kasih sayang untuk semua makhluk-Nya, yang maujud dalam bentuk materi fisik maupun yang diselimuti kegaiban-Nya dan yang menggenggam kehidupan semua makhluk-Nya. Shalawat dan salam kusampaikan kepada Nabi Muhammad SAW sebagai maujud Af’al, Asma-asma dan Sifat-sifat-Nya yang paripurna, Adimanusia, Insan Kamil dan Gurujati semua manusia, keluarga dan kerabatnya, para sahabatnya, para aulia dan para pewaris serta penyampai ilmunya, yang meneruskan rahmatnya kepada seluruh alam dan penghuninya, yang merentang menembus batas-batas ruang-waktu : dulu, kini dan nanti.

Kematian pastilah akan datang, kepada semua makhluk yang bernyawa, dimanapun ia berada, dan dalam keadaan apapun. Maka dalam banyak kesempatan, Nabi Muhammad SAW selalu mengingatkan kepada umatnya untuk mewaspadai setiap saat gerak-geriknya. Bahkan, ia yang menjadi Habib Allah (Kekasih Allah) penutup para Nabi dan Rasul pun tidak luput dari datangnya ajal, lengkap dengan segala rasa takut , kengerian, dan penderitaannya. Kematian yang dialami oleh Nabi SAW adalah suatu hikmah dan pelajaran bagi kita semua, bahwa Allah SWT Maha Berkehendak, sehingga dahsyatnya sakratul maut dan datangnya Malaikat Maut tak akan dapat dielakkan oleh semua makhluk-Nya.

Dalam Al Qur’an, malaikat maut disebutkan secara umum di surat As Sajdah ayat 11. Dalam beberapa literatur klasik nama Malaikat Maut dikarakterisasikan dengan nama Izrail. Dialah yang merupakan salah satu malaikat utama Allah yang bertugas mencabut nyawa semua makhluk yang bernyawa. Dalam fiksi imajinal ini, Malaikat Maut dengan nama Izrail akan datang setiap saat kepada manusia sebagai pencabut nyawa. Kematian adalah suatu peringatan yang nyata, bahwa manusia semestinya lebih mawas diri atas segala perilakunya sendiri selama ia hidup di dunia. Risalah tentang Izrail ini, yang saya beri judul “Namaku Izrail!”, kurang lebih dimaksudkan untuk mengingatkan saya dan kita semua, bahwa Malaikat Maut pasti akan datang. Ia adalah pelaksana kiamat kecil yang nampaknya saat ini banyak tidak disadari oleh kita semua. Sehingga, seringkali kita alpa dan lalai untuk mengingat mati. Risalah ini memang risalah mawas diri tentang kematian, tentang berakhirnya semua peluang kita untuk mengumpulkan bekal guna kembali kepada-Nya. Apakah kita kembali dengan meniti Shiraatal Mustaqim atau terpelanting dari jembatan itu, maka sudah menjadi kewajiban kita untuk mengingat kematian.

 

Tak ada bekal yang dapat kita bawa saat kematian kita, kecuali amal shaleh sebagai orang yang beriman kepada-Nya dan kain kafan, tidak harta benda, intan, emas, permata, tidak juga istri yang kita cinta, ataupun anak-anak kita, kecuali amal shaleh yang diridhai oleh-Nya. Maka ingatlah kematian, dan bersiap-siaplah dengan bekal yang dapat Anda bawa.

Edisi 2016 ini merupakan edisi yang direvisi dari berbagai masukan yang penulis peroleh selama setahun setelah penerbitan edisi printing on demand.

 

Akhir kata, semoga risalah tentang kematian ini dapat menjadi pelajaran bagi kita semua.

 

Wassalammu’alaikum Wr. Wb

 

Jakarta, 13 Mei 2016

Atmonadi

 

 

 

 

 

Daftar Isi

 

 

Prakata____iv

Daftar Isi_____vii

Bab 1 Dia Yang Datang Tak Diundang____1

Bab 2 Tanda-Tanda____9

Bab 3 Namanya Izrail____14

Bab 4 Hikayat Izrail_____18

Bab 5 Portofolio Izrail____57

Bab 6 Kematian Izrail____152

Bab 7 Semuanya Pasti Akan Mati____159

Referensi____162

Riwayat Hidup Penulis____164

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

“Wahai anakku! Jika ada sesuatu yang tak bisa kau pastikan bila dia datang,maka persiapkan dirimu untuk menghadapinya sebelum dia mendatangimu sedang engkau dalam keadaan lengah” (Nasihat Luqman kepada anaknya)