Bab 3. Dia Bernama Izrail

“Ya Allah”. Ujarku setengah tak percaya. “Engkau…engkau…Izrailā€¦ malaikat?”, tanyaku. Ia mengangguk. Baru kusadari, ia yang berdiri di hadapanku ini memang berkulit sangat bersih. Bahkan bisa kubilang bersinar. Persis seperti gambaran buku-buku tentang orang-orang yang ahli ibadah. Halus, nyaris tanpa otot dan bulu. Ya seperti kataku tadi, mirip kulit bayilah.